Thursday, March 10, 2016

Pelajaran berharga..(3)

Kamis, 10 Maret 2016. 12.53 WIB. Di pinggir jalan kawasan Merr Surabaya  sebuah mobil tipe minibus warna putih berhenti. Pengemudi kemudian keluar dari pintu, menutup pintu dengan kencang (terdengar hingga tengah jalan jarak kurang lebih 100 meter). Pengemudi mobil tersebut kemudian membuka pintu bagian kiri belakang mobil, menarik tangan kecil yang ada di dalamnya untuk keluar -seorang anak perempuan usia prasekolah dengan seragamnya-. Pengemudi lalu menggendong anak perempuan tersebut pada bagian pinggang si anak dengan kedua tangannya, mengangkat anak tersebut, membawanya ke jarak kurang lebih 1.5meter dari bagian belakang mobil, dan menurunkan anak perempuan tersebut. Pengemudi lalu kembali memasuki mobil tersebut, hendak meninggalkan si anak. Terdengar teriakan si anak, namun sang pengemudi yang merupakan laki2 berusia sekitar 40-50 tahun mengabaikan teriakan anak dengan wajah marah.

Kejadian tidak menyenangkan terhadap anak semacam ini seringkali terlihat, di kota besar, dan di tempat umum. Sayangnya, sebagian besar kejadian dilakukan oleh etnis tertentu (maaf tidak disebutkan untuk menghindari isu SARA) dan dari status sosial ekonomi menengah keatas. Bahkan, mereka kerap menyakiti sang anak secara fisik.

Perlu disadari, apapun yang kita lakukan pada anak, akan selalu diingat hingga anak beranjak dewasa, dan tidak sedikit dari anak akan meniru perlakuan yang diterimanya.

Bisakah kita, orang dewasa, bersikap lebih layak terhadap anak? Dan tidak hanya mengajarkan anak untuk mengejar materi dan mementingkan ego, namun juga mengajarkan anak tentang aspek hidup lainnya, seperti komunikasi, empati, hormat, dan menghargai?

Wednesday, November 12, 2014

VALIDITAS DAN RELIABILITAS




Pict: mind map of Validity & Reliability 


Dalam setiap pengukuran penelitian yang bersifat kuantitatif, validitas dan reliabilitas menjadi hal yang penting, terutama pada pengukuran terhadap hal-hal yang bersifat covert seperti pada konstruk sosial maupun psikologis dimana hal yang diukur tidak dapat langsung teramati secara inderawi. Untuk itu, diperlukan adanya konsep validitas dan reliabilitas dalam setiap pengukuran tersebut. Untuk mengenal dan memahami lebih jauh, berikut terdapat beberapa pertanyaan mengenai validitas dan reliabilitas beserta jawabannya yang mengacu pada referensi-referensi yang
terkait:

(What) Apa yang dimaksud dengan validitas dan reliabilitas?
Validitas
  1. Menurut Neuman (2007), validitas menunjukkan keadaan yang sebenarnya dan mengacu pada kesesuaian antara konstruk, atau cara seorang peneliti mengkonseptualisasikan ide dalam definisi konseptual dan suatu ukuran. Hal ini mengacu pada seberapa baik ide tentang realitas "sesuai" dengan realitas aktual. Dalam istilah sederhana, validitas membahas pertanyaan mengenai seberapa baik realitas sosial yang diukur melalui penelitian sesuai dengan konstruk yang peneliti gunakan untuk memahaminya.
  2. Menurut Anastasi & Urbina (1998), validitas yaitu mengenai apa dan seberapa baik suatu alat tes dapat mengukur, sedangkan reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika diuji berulang kali dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau dibawa kondisi pengujian yang berbeda.
  3. Menurut Azwar (1987, dalam Widodo, 2006) menyatakan bahwa validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes dikatakan memiliki validitas
    yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukur secara tepat atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Artinya hasil ukur dari pengukuran tersebut merupakan besaran yang mencerminkan secara tepat fakta atau keadaan sesungguhnya dari apa yang diukur.
  4. Suryabrata (2000, dalam Widodo, 2006) menyatakan bahwa validitas tes pada dasarnya menunjuk kepada derajat fungsi pengukurnya suatu tes, atau derajat kecermatan ukurnya suatu tes. Validitas suatu tes mempermasalahkan apakah tes tersebut benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Maksudnya adalah seberapa jauh suatu tes mampu
    mengungkapkan dengan tepat ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur, akan tergantung dari tingkat validitas tes yang bersangkutan.
  5. Sudjana (2004, dalam Widodo, 2006) menyatakan bahwa validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang
    seharusnya dinilai
Reliabilitas
  1. Menurut Neuman (2007), reliabilitas berarti keandalan atau konsistensi. Hal ini menunjukkan
    bahwa pengukuran atribut yang sama diulang akan memberikan hasil kondisi yang identik atau sangat mirip. Reliabilitas dalam penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa hasil numerik yang dihasilkan oleh suatu indikator tidak berbeda karena karakteristik dari proses pengukuran atau instrumen pengukuran itu sendiri. Kebalikan dari reliabilitas adalah pengukuran yang memberikan hasil yang tidak menentu, tidak stabil, atau tidak konsisten.
  2. Menurut Anastasi dan Urbina (1998) reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang
    dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen yang berbeda, ataupun dibawah kondisi pengujian yang berbeda.
  3. Reliabilitas berasal dari kata reliability yang berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran memiliki keterpercayaan, keterandalan, keajegan, konsistensi, kestabilan yang dapat dipercaya. Hasil ukur dapat dipercaya apabiladalam beberapakali pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama (Azwar, 2011).
(Who) Siapa tokoh yang berperan dalam konsep validitas dan reliabilitas?
Tokoh pertama yang mendefinisikan reliabilitas adalah Spearmen-Brown (Setyawan, 2011)

(Why) Mengapa kita perlu validitas dan reliabilitas?
Menurut Jacobs (1991), validitas dan reliabilitas diperlukan untuk:
  1. Validitas digunakan sebagai pengembangan dan pengevaluasian suatu tes.
  2. Reliabilitas digunakan sebagai indikator dalam mempercayai nilai dari suatu tes karena
    memiliki konsistensi
(When) Kapan validitas dan reliabilitas berfungsi/berlaku dan kapan tidak berfungsi?
Validitas
Ketika peneliti mengatakan bahwa suatu indikator itu valid, maka itu valid untuk tujuan dan definisi
tertentu. Indikator yang sama bisa valid untuk satu tujuan (misal pertanyaan penelitian dengan unit analisis atau secara umum), tetapi bisa kurang valid atau tidak valid untuk hal yang lainnya. Misalnya dalam mengukur prejudice, bisa valid untuk mengukur prejudice para guru, tapi bisa jadi tidak valid untuk digunakan dalam mengukur prejudice dari para polisi. Tidak adanya validitas terjadi jika tidak terdapat kesesuaian atau kesesuaian yang rendah antara konstruk yang digunakan untuk
menggambarkan, membuat teori atau menganalisis dunia sosial dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia sosial (Neuman, 2007).
Reliabilitas
Jika terhadap bagian obyek ukur yang sama, hasil ukur melalui butir yang satu tidak konsisten dengan hasil ukur melalui butir yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya. Dengan kata lain, alat ukur tidak reliabel dan tidak dapat digunakan untuk mengungkap ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur. Kemudian apabila hasil pengukuran pada bagian obyek ukur yang sama antara butir yang satu dengan butir yang lain saling kontradiksi atau tidak konsisten maka kita tidak bisa menyalahkan obyek ukur,
melainkan alat ukur (tes) yang dipersalahkan dengan mengatakan bahwa tes tersebut tidak reliabel terhadap obyek yang diukur (Sugiyono, 2010).

(How Much) Berapa macam/jenis validitas dan reliabilitas dalam riset
atau alat ukur?

Menurut Neuman (2007), terdapat tiga jenis validitas pengukuran, antara lain:
  1. Face validity. Ini merupakan validitas yang paling mudah untuk dicapai dan sebagian besar jenis dasar dari validitas adalah face validity. Hal ini memerlukan pertimbangan dari komunitas ilmiah bahwa indikator benar-benar dapat digunakan untuk mengukur suatu konstruk. Kesesuaian antara definisi dan metode pengukuran yang digunakan merujuk pada pertimbangan dari suatu konsensus komunitas ilmiah atau penilaian dari orang lain.
  2. Content vatidity. Validitas ini membahas mengenai definisi konseptual yang berisi ide-ide dan konsep dapat direpresentasikan dalam suatu pengukuran. Validitas isi melibatkan tiga langkah. Pertama, menentukan definisi konstruk dari seluruh konten. Selanjutnya, ambil sampel dari semua bidang definisi. Kemudian, mengembangkan indikator yang mewakili semua bagian dari definisi.
  3. Validitas Kriteria. Validitas kriteria menggunakan beberapa standar atau kriteria untuk mengindikasi konstruk secara akurat. Validitas dari indikator diverifikasi dengan cara membandingkannya dengan ukuran lain dari konstruk yang sama yang diterima secara luas. Ada dua subtipe dari jenis validitas kriteria, yaitu:
  • Validitas konkuren. Indikator harus dikaitkan dengan indikator yang sudah ada sebelumnya dan dinilai sebagai valid (misalnya, telah memiliki face validity).
  • Validitas prediktif. Validitas kriteria dimana indikator memprediksi kejadian masa depan yang logis terkait dengan suatu konstruk. Hal ini tidak dapat digunakan untuk semua ukuran. Ukuran dan tindakan yang diprediksi harus berbeda, tetapi dapat menunjukkan konstruk yang sama. Validitas pengukuran prediktif tidak perlu dibingungkan dengan prediksi dalam pengujian hipotesis, di mana satu variabel memprediksi variabel yang berbeda di masa depan.
Selain itu, menurut Sugiyono (2004), jenis-jenis validitas yaitu sebagai berikut:
  1. Validitas konstruksi (construct validity); dengan menggunakan pendapat dari ahli (experts
    judgment)

  2. Validitas isi (content validity); dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan.

  3. Validitas eksternal; dengan cara membandingkanguna mencari kesamaan antar criteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan.
Kemudian dalam Azwar (2011), jenis validitas terdiri dari 3 yaitu:
  1. Validitas isi: menunjukkan sejauh mana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur oleh tes tersebut.
  2. Validitas konstruk: menunjukkan sejauh mana suatu tes mengukur trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya.
  3. Validitas kriteria: bukti validitasnya diperlihatkan dengan adanya hubungan skor pada tes yang bersangkutan dengan skor suatu kriteria (contoh: analisis korelasional.
Menurut sumber lain yang serupa, Ada lima sumber dasar teori dalam validitas konstrak, yaitu isi, proses respon, struktur internal, hubungan terhadap variabel lain, dan akibat. Berikut ini akan diuraikan satu per satu. Konten: melihat hubungan antara isi pengukuran dengan konstrak ingin diukur. Disini perlu dilihat definisi, tujuan alat ukur, proses dalam mengembangkan dan memilih aitem, kata-kata dari setiap aitem, dan kualifikasi penulis. Bukti konten biasanya menyajikan langkah-langkah terperinci untuk memastikan bahwa alat ukur tersebut telah mewakili konstrak yang akan dikur (Cook&Beckman,2006). Proses respon yaitu bagaimana pola pikir penulis terhadap pengukuran yang dilakukan, metode dan keamanan data yang digunakan dalam pengukuran dan pelaporan juga termasuk dalam kategori ini. Struktur internal melihat hubungan antara aitem tes dengan tes yang digunakan untu mengukur konstrak, yaitu apakah aitem-aitem yang penting mungkin dapat memiliki fungsi yang berbeda pada sekelompo responden. Hal ini bermanfaat apabila responden secara kategorial memiliki kesamaan, sehingga aitem tes ini diharapkan dapat menunjukkan perbedaannya dari masing-masing responden. Hubungannya dengan variabel
yang lain:
melihat hubungan skor tes dengan pengukuran lain dengan konstrak yang sama.

Bagaimana cara mengukur validitas dan reliabilitas?
Validitas
Menurut Sugiyono (2010), cara pengujian validitas yaitu sebagaiberikut:
  1. Pengujian validitas konstruk; menggunakan pendapat para ahli mengenai aspek yang akan diukur. Kemudian dilakukan ujicoba instrumen pada sampel dari populasi yang akan digunakan. Setelah data ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total. Pengujian validitas seluruh butir instrumen dalam satu variabel dapat juga dilakukan dengan cara mencari daya pembeda skor tiap aitem dari kelompok yang memberikan jawaban tinggi dan jawaban rendah. Pengujian analisis daya pembeda dapat menggunakan t-test.
  2. Pengujian validitas isi; untuk instrumen yang berbentuk tes dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Di sisi lain, pengujian validitas isi dari instrumen yang akan mengukur efektivitas pelaksanaan program, dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan. Untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut, maka setelah dikonsultasikan kepada para ahli, selanjutnya diujicobakan, dan dilakukan analisis aitem atau uji beda.
  3. Pengujian validitas eksternal; dilakukan dengancara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. Bila terdapat kesamaan, maka dapat dinyatakan instrumen tersebut memiliki validitas eksternal yang tinggi.
Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2010), Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Secara internal, reliabilitas dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik internal consistency. Hal ini dilakukan dengan cara meng-ujicobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (Split Half), KR-20, KR-21, dan Anova Hyott (Analisis Varians).
Kemudian secara eksternal, pengujian dapat dilakukan dengan cara berikut:
  1. Test-retest. Pengujian test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen yang sama beberapa kali pada responden yang sama, namun dilakukan dalam waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel.
  2. Equivalent. Pengujian dengan cara ini cukup dilakukan sekali, namun menggunakan dua instrumen yang berbeda, pada responden yang sama, dan waktu yang sama. Reliabilitas dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalent.
  3. Gabungan. Pengujian dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent beberapa kali kepada responden yang sama. Reliabilitas diukur dengan mengkorelasikan dua instrumen, kemudian dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang.
Selainitu, menurut Jacobs (1991), analisa reliabilitas dapat diukur dengan tiga cara yaitu BEST digitek test scoring, Spearman Brown, dan Kuder-Richarson 20. Spearman Brown mengukur konsistensi pengambilan aitem. Sedangkan KR-20 mengukur konsistensi jawaban terhadap semua aitem dan menunjukkan dua sumber kesalahan, yaitu: pemilihan aitem dan heterogenitas dari sampel. Reliabilitas juga dapat dijelaskan dengan standar eror pengukuran, yaitu memperkirakan
seberapa besar perubahan nilai individu ketika dilakukan pengulangan tes. Apabila reliabilitas nilai tes tinggi, maka standar error pengukuran tersebut rendah.

Bagaimana cara mengembangkan validitas sesuai dengan kebutuhan?
Untuk menggunakan validitas yang diinginkan terlebih dahulu mencari referensi mengenai teori pengukuran yang akan dipakai, dengan demikian dapat diketahui pengukuran yang akan digunakan sehingga dapat menghasilkan suatu validitas nantinya (Cook&Beckman, 2006). Selain teknik korelasi, pada reliabilitas juga berkembang analisis varians skor dan analisis varians eror (Azwar, 2011).

Kapan validitas dan reliabilitas berfungsi/berlaku dan
kapan tidak berfungsi? Apa Syaratnya?

Validitas
Menurut Neuman (2007), ketika peneliti mengatakan bahwa suatu indikator itu valid, maka indikator tersebut valid untuk tujuan dan definisi tertentu. Indikator yang sama bisa valid untuk satu tujuan (misal pertanyaan penelitian dengan unit analisis atau secara umum), tetapi bisa
kurang valid atau tidak valid untuk hal yang lainnya. Misalnya dalam mengukur prejudice, bisa valid untuk mengukur prejudice para guru, tapi bisa jadi tidak valid untuk digunakan dalam mengukur prejudice dari para polisi. Tidak adanya validitas terjadi jika tidak terdapat kesesuaian atau kesesuaian yang rendah antara konstruk yang digunakan untuk menggambarkan, membuat teori atau menganalisis dunia sosial dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia sosial.
Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2010), jika terhadap bagian obyek ukur yang sama, hasil ukur melalui butir yang satu tidak konsisten dengan hasil ukur melalui butir yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya. Dengan kata lain, alat ukur tidak reliabel dan tidak dapat digunakan untuk mengungkap ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur. Kemudian apabila hasil pengukuran pada bagian obyek ukur yang sama antara butir yang satu dengan butir yang lain saling kontradiksi atau tidak konsisten maka kita tidak bisa menyalahkan obyek ukur, melainkan alat ukur (tes) yang dipersalahkan dengan mengatakan bahwa tes tersebut tidak reliabel terhadap obyek yang diukur.

Bagaimana hubungan antara validitas dan reliabilitas?
Reliabilitas diperlukan untuk pengujian validitas dan lebih mudah untuk dicapai daripada validitas. Meskipun reliabilitas diperlukan untuk memiliki ukuran yang valid dari suatu konsep, hal itu tidak menjamin ukuran tersebut bisa berlaku. Selain itu, suatu ukuran yang reliabel atau dapat menghasilkan hasil yang sama berulang-ulang, namun belum tentu valid atau mungkin hasil pengukuran tidak cocok dengan definisi konstruk. Dalam hal ini, validitas dan reliabilitas merupakan konsep yang saling melengkapi, namun dalam beberapa situasi mereka bertentangan satu sama lain.
Kadang-kadang, validitas meningkat namun reliabilitas lebih sulit dicapai, atau sebaliknya. Hal ini terjadi ketika memiliki definisi konstruk yang sangat abstrak dan tidak mudah diamati. Reliabilitas paling mudah dicapai ketika ukuran secara tepat dan dapat diamati. Dengan demikian, ada pertentangan antara esensi sebenarnya dari konstruk yang sangat abstrak dan mengukurnya secara
konkret (Neuman, 2007).

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi validitas?
Menurut Cook & Beckman (2006), faktor yang mempengaruhi validitas yaitu definisi yang jelas mengenai suatu konstrak pengukuran. Selain itu, faktor-faktor yang juga mempengaruhi yaitu: panjang alat ukur, variabilitas kemampuan kelompok, instruksi tes yang ambigu, perbedaan sosio-kultural, penambahan item-item yang tidak tepat.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi reliabilitas?
Menurut Jacobs (1991), beberapa faktor yang mempengaruhi reliabilitas adalah sebagai berikut:
  1. Pemilihan aitem; dimana tes merupakan pemilihan aitem-aitem yang digunakan untuk mengukur suatu konstrak, dengan demikian pemilihan aitem tersebut dapat menjad sumber kesalahan dalam pelaksanaan tes. Untuk meningkatkan konsistensi dapat memperbanyak pemilihan aitem yang digunakan. Dengan demikian akan mengurangi responden untuk asal tebak dalam menjawab. Namun aitem ini juga harus dipertimbangkan kualitas pertanyaannya, karena apabila tidak dan aitem yang diberikan banyak dapat membuatresponden kelelahan.
  2. Penyusunan aitem; kalimat yang ambigu atau kurangnya kata dalam suatu kalimat juga dapat mempengaruhi interpretasi responden sehingga dapat mempengaruhi reliabilitas.
  3. Pemberian administrasi tes; kalimat instruksi yang kurang jelas atau suasana yang bising dapat mempengaruhi responden ketika menjawab.
  4. Penilaian (scoring); pada tes essai memiliki reliabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan tes pilihan ganda. Karena pada tes esai, penilai memiliki interpretasi yang berbeda-beda dalam menilai jawaban responden sehingga lebih bersifat subyektif.
  5. Tingkat kesulitan dari suatu tes; nilai dari suatu tes menunjukkan reliabilitas yang baik apabila nilai tersebut menyebar dari skala yang digunakan dengan demikian dapat terlihat perbedaan antar siswa. Faktor yang terakhir adalah siswa, dimana kelelahan, kecemasan, dan siswa sakit dapat menyebabkan reliabilitas yang rendah karena mempengaruhi kinerja mereka dalam mengerjakan tes (Jacobs,1991).

Apabila membutuhkan reliabilitas, dinaikkan sampai berapa. Jika tidak membutuhkan, diturunkan sampai berapa?
Dengan memperbanyak jumlah aitem, biasanya dalam soal pilihan ganda terdapat 40 soal, berhati-hati dalam menyusun aitem yaitu memperjelas maksud dari pertanyaan, perencanaan waktu dalam pelaksanaan tes karena pengisian yang terburu-buru di akhir waktu bukanlah tes yang reliabel, dan prosedur tes hendaknya ditulis dengan kalimat yang jelas (Jacobs, 1991).

Apa perbedaan hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang valid dan reliabel?
Hasil penelitian dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti, sedangkan hasil penelitian dikatakan reliabel apabila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.
Di sisi lain, instrumen yang valid adalah instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data dan bisa mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan instrumen yang reliabel adalah instrumen
yang bila digu akan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama dapat menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2010).
Bagaimana cara meningkatkan reliabilitas pengukuran?
Ada empat cara untuk meningkatkan reliabilitas pengukuran: (1) mengonseptualisasi semua konstruk secara jelas, (2) menggunakan level pengukuran yang tepat, (3) menggunakan beberapa indikator dari suatu variabel, dan (4) menggunakan pilot-tets (pretests, pilot studies, dan replikasi) (Neuman, 2007).

Bagaimana cara meningkatkan validitas eksternal penelitian?
Cara meningkatkan validitas eksternal penelitian yaitu dengan cara meningkatkan validitas eksternal dari instrumen dan memperbesar jumlah sampel (Sugiyono, 2010).

Bagaimana proses validasi?
Proses validasi melibatkan pengumpulan bukti-bukti untuk memberikan dasar ilmiah pada interpretasi skor yang dimaksud (Standards, 1999).

Sebutkan sumber-sumber pembuktian validitas!
menurut Standards (1991), beberapa sumber pembuktian validitas yaitu sebagai berikut:
  1. Pembuktian yang didasarkan pada konten pengujian (evidence based on test content); mengacu pada tema, judul, format aitem-aitem, tugas, ataupun pertanyaan pada suatu tes, serta pedoman untuk prosedur mengenai administrasi dan skoring.
  2. Pembuktian yang didasarkan pada proses-proses respon (evidence based on response processes); berupa analisis teoritis dan empiris dari proses respon pengambil tes.
  3. Pembuktian yang didasarkan pada truktur internal (evidence based on internal structure); hal ini dapat menunjukkan sejauh mana hubungan antar item tes dan komponen yang diuji sesuai dengan dasar konstruk yang digunakan untuk menginterpretasi skor tes.
  4. Pembuktian yang didasarkan pada hubungannya terhadap variabel lain (evidence based on relations to other variables); dengan menganalisa hubungan antara skor tes dengan variabel eksternal tes.
  5. Pembuktian yang didasarkan pada konsekuensi pemberian tes (evidence based on consequences of testing); dengan menggabungkan konsekuensi-koneskuensi baik yang diinginkan maupun tidak diinginkan dari kegunaan tes kedalam konsep validitas, misal kebijakan sosial.

Bagaimana cara pengujian reliabilitas hasil ukur skala psikologi?
Pengujian reliabilitas terhadap hasil ukur skala psikologi dapat dilakukan bilamana item-item yang terpilih lewat prosedur analisis item telah dikompilasikan menjadi satu (Azwar, 2008).

Bagaimana aplikasi dalam menyatakan reliabilitas?
Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1,00, dimana koefisien reliabiltas semakin mendekati 1,00 maka semakin tinggi
reliabilitasnya, begitu pun sebaliknya (Azwar, 2008).

Jelaskan makna dari koefisien validitas dan reliabilitas!
  1. Interpretasi koefisien validitas dan reliabilitas keduanya bersifat relatif, dalam hal ini pada umumnya estimasi validitas berkisar 0,50 dapat dianggap memuaskan, sedangkan koefisien validitaskurang dari 0,30 biasanya dianggap tidak memuaskan.
  2. Pada umumnya, reliabilitas dapat dianggap memuaskan apabila koefisiennya minimal mencapai rxx’ = 0,900, namun terkadang suatu koefisien tidak mencapai nilai tersebut dan masih dianggap cukup berarti dalam suatu kasus tertentu terutama apabila skala yang bersangkutan digunakan bersama-sama dengan tes lain dalam suatu perangkat pengukuran (battery test) (Azwar, 2008).

    Sebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
    menginterpretasi koefisien reliabilitas!

    Terdapat dua hal yang perlu
    diperhatikan dalam menginterpretasikan koefisien reliabilitas, yaitu sebagai
    berikut (Azwar, 2008):
    a. Interpretasi
    koefisien reliabilitas bernilai spesifik bagi hasil ukur pada kelompok individu
    tertentu saja.
    b. Koefisien
    reliabilitas hanya mengindikasi besarnya inkonsistensi skor hasil pengukuran,
    bukan menyatakan secara langsung penyebab inkonsistensi tersebut.

    Referensi:

     

    _________. (1999). Standards: Educational and psychological testing. Washington: American Educational Research Association.

    Anastasi, A., & Urbina, S. (1998). Tes Psikologi (Edisi Terjemahan). Jakarta: PT. Prenhallindo.

    Azwar, S. (2008). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Azwar, S. (2011). Tes Prestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Cook, D. A. & Beckman, T. (2006). Current concept validity and reliability for psychometric instrument: Theory and application. The American Journal of Medicine.

    Jacobs, L. C. (1991). Test Reliability. IU Bloomington evaluation service & testing. Diakses pada tanggal 7 November 2014 dari www.indiana.edu.

    Matondang, Z. (2009). Validitas dan reliabilitas suatu instrumen penelitian.  Jurnal Tabularasa PPS Unimed, 6 (1), 87-97.

    Neuman, W. L. (2007). Basic of social research: Qualitative and quantitative qpproaches, second edition. Pearson Education, Inc.

    Sugiyono. (2004). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.

    Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

    Widodo, P. B. (2006). Reliabilitas dan validitas konstruk skala konsep diri untuk mahasiswa Indonesia. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 3 (1), 1-9.

    (dibuat untuk tugas metode penelitian kuantitatif Magister Profesi Psikologi Unair 2014)

    Dosen pengajar: DR. Cholichul Hadi, M.Si., Psikolog.

    Kelompok:
    1. Nurdila Triastuti  111414153036
    2. Diyana R.           111414153038
    3. I.G.A.K. Yulia D.  111414153018
    4. Dilla Ima W.         111414153005
    5. Pratiwi S.            
    6. Rosita P.              111414153020
    7. Hielma H.             111414153030
    8. Muhithah Ulin. N. 111414153015

    Monday, June 9, 2014

    June 2014: 1st Anniversary doing Food Combining

    Setelah sekian lama meninggalkan blog pribadi, saya kembali :) 
    Kali ini saya ingin share sedikit mengenai pola makan yang saya yakini sehat, karena dengan menerapkan pola makan ini selama setahun, terbukti daya tahan tubuh meningkat tanpa mengkonsumsi suplemen ataupun obat-obatan kimia. Berawal dari "self-experiment" dan berlanjut hingga saat ini. Yup, bulan Juni 2014 ini setahun sudah saya genap menerapkan pola makan Food Combining :D

    Gambar1: menu sarapan dengan buah-buahan 

    Prinsip food combining (dari berbagai sumber)
    1. makan makanan segar & alami (minim proses masak)
    2. konsumsi kombinasi makanan mengikuti siklus alami tubuh (ritme sirkadian)
    3. pentingnya keseimbangan asam-basa tubuh (kondisi pencernaan terlalu asam dpt menyebabkan gangguan pencernaan, misal: mudah kembung & diare)
    4. Food Combining (FC) tdk perlu takaran khusus u/makan (jadi tetap bisa makan kenyaang :D)

    Gambar2: Petunjuk pelaksanaan makan siang & malam dengan pola FC

    Banyak perubahan positif yang saya rasakan setelah menerapkan pola makan ini. Keluhan rasa "tidak nyaman" pada tubuh yang umumnya dirasakan banyak orang pun sudah tidak saya alami, seperti flu, "masuk angin", sakit kepala, mudah lelah, dll. Ajaibnya lagi, symptoms alergi yang bertahun-tahun ini saya rasakan pun "lenyap". Alhamdulillah.... O:) 

    Last but not least, quote yang saya rasa "pas" untuk bahasan kali ini adalah-->
    "YOU ARE WHAT YOU EAT"

    Tertarik untuk mencoba? Bekali dulu pemahaman dasar tentang #FC (bisa dari buku, artikel web, blog, jurnal, dsb.) 

    Salam Sehat! ;)
    ~DhilaTria~


    Saturday, January 18, 2014

    Saturday, I'm lovin' it!

    My outfit of the day:


    Quality time with mama <3 we're wearing flower brooch by dhilatriacollection ;)



    Monday, September 2, 2013

    Anak-anak: ceritaku dan mereka

    Banyak alasan untuk saya mencintai anak-anak. Yes, I do love kids! Indeed! Terutama ketika mereka menginjak usia emasnya (golden age). Percaya atau tidak, ketika itu segala aspek yang dimiliki anak tumbuh & berkembang pesat, dan ini mempengaruhi bagaimana mereka di masa yang akan datang.

    As a teacher, I'm not only care about cognitive aspect of children, but also about emotional aspect. Satu contoh pengalaman yang saya dapat ketika menghadapi mereka secara emosional:
    Saya (S): *baca pesan masuk dari ortu murid* "N masih ingin digandeng ibu guru ketika naik-turun tangga" | orang tua (OT): *bertanya kepada anaknya* "kenapa begitu?" | Anak (A):  "takut ms.D diambil sama teman-teman yang lain" | (S): *ke GR-an :))

    Sunday, June 9, 2013

    Pesan untuk para pria & wanita

    Untuk para pria: hargai wanita Anda, apapun kesalahannya, selama dirinya masih berusaha menjaga kehormatan dan nama baik dirinya sendiri. Seberapa pun kesalnya Anda atas perbuatan wanita, tidak pantas bagi Anda untuk menyakitinya, apalagi secara fisik. Ingatlah, karena Anda pun terlahir dari rahim seorang wanita.

    Untuk para wanita: sayangi diri Anda, jadilah pribadi yang "cerdas". Jangan sekali-kali membiarkan orang lain menyakiti Anda, sekalipun dia adalah orang yang Anda cintai. Apabila pria yang Anda cintai menyakiti Anda, terutama secara fisik, tinggalkan dia. Bagaimanapun diri Anda lebih berharga dibandingkan dengan pria itu.

    Monday, September 24, 2012

    Apasih Masa Remaja?

         Masa remaja adalah masa dimana individu mencoba banyak Hal yang "menantang" sebagai usaha pencarian Jati dirinya. Dikarenakan Krisis identitas itulah maka remaja seringkali terpengaruh ajakan Dari luar dirinya. 


         Peran orang dewasa sangat diperlukan sebagai pembimbing agar para remaja terhindar Dari perilaku menyimpang dan berbahaya, terutama yang mengancam jiwa.


        Pesan untuk para orang tua: biasakanlah berkomunikasi secara efektif & luangkanlah waktu untuk membimbing & berbagi pemikiran yang positif dengan Anak anda sedari kecil, karena pembentukan identitas diri tidak terjadi secara sekejap.

    (turut berduka atas tewasnya salah satu siswa akibat tawuran SMA 70 Vs SMA 6)

    Sunday, June 17, 2012

    Friday, March 23, 2012

    Pelajaran Berharga (2)

       Modus kejahatan dalam bentuk pencurian barang-barang elektronik, seringkali memanfaatkan situasi ramai pada event tertentu di tempat umum (misal: ulang tahun, pagelaran musik, dll). Hebatnya rencana pencurian si pelaku sudah semakin matang (sepertinya belajar dari kegagalan rekan-rekan seprofesi, dan mencoba up-to-date). 


        Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ketika sedang dilangsungkannya pesta ulang tahun seorang anak di salah satu restoran cepat saji di bilangan Jakarta Selatan. Seperti biasa, ketika anak berulang tahun, sang ortu-pun mengundang teman-teman sekolah anaknya, para guru, dan beberapa kerabat maupun sahabat si orang tua. Pesta ulang tahun tersebut dilangsungkan di sebuah ruangan yang memang disediakan oleh resto cepat saji tersebut di Lt.2. Acara tersebut berlangsung meriah dan penuh dengan teriakan dan tawa anak-anak. Sampai pada acara pembagian makan siang untuk tamu undangan khusus anak-anak, para tamu undangan yang dewasa pun bersiap untuk makan siang. Biasanya, pihak keluarga atau sahabat si empunya acara seringkali menitipkan atau meletakkan tasnya di meja atau kursi di pojok ruangan/tempat yang dirasa jauh dari jangkauan pengunjung umum. 


        Beberapa waktu kemudian, beberapa tamu undangan ada yang baru berdatangan, entah mereka adalah sahabat ataupun kerabat si empunya acara. Salah satunya adalah bapak-bapak yang berpenampilan menarik (beberapa ibu tamu undangan berkata pada saya kalau bapak tersebut "keren" dan "ganteng") menggendong anaknya yang masih terbilang balita. Bapak tersebut masuk ke dalam ruangan tempat pesta berlangsung, bersamaan dengan beberapa tamu undangan yang memang baru datang. Beberapa tamu undangan mengira bahwa bapak tersebut adalah salah satu kerabat dari si pemilik hajat. Dia mengambil kantong sampah besar, memasukkan beberapa benda termasuk 'goodie bag' ke dalam kantong tersebut, dan tas bayi.


       Tidak lama kemudian, seorang wanita yang kebetulan adalah tante dari si anak yang berulang tahun, menyadari bahwa tas milik anak semata wayangnya (yang masih batita) hilang. Wanita itupun segera melaporkan hal tersebut ke pihak berwajib. Tas bayi yang terkesan sepele itu sebenarnya berisi beberapa alat elektronik yang 'berharga' baik secara kuantitas maupun kualitas. Entah kebetulan atau tidak, di dalam ruangan tempat berlangsungnya acara itu tidak dipasang CCTV sehingga tidak ada bukti nyata dari perbuatan si pencuri yang diyakini adalah 'bapak-bapak' yang membawa anak - yang menyusup sebagai tamu undangan. 


        Kejadian serupa juga pernah terjadi di restoran cepat saji lainnya, dengan event yang sama. (diambil dari kisah nyata)

    Friday, March 16, 2012

    Children Learn What They Live ---- By Dorothy Law Nolte, Ph.D

    *If children live with criticism, they learn to condemn
    *If children live with hostility, they learn to fight
    *If children live with fear, they learn to be apprehensive
    *If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves
          *If children live with ridicule, they learn to feel shy                   
          *If children live with jealousy, they learn to feel envy                   
          *If children live with shame, they learn to feel guilty           
         
     *If children live with encouragement, they learn confiden
     *If children live with tolerance, they learn patience
     *If children live with praise, they learn appreciation
     *If children live with acceptance, they learn to love                   
         *If children live with approval, they learn to like themselves                   
         *If children live with recognition, they learn it is good to have a goal                   
         *If children live with sharing, they learn generosity                   
         *If children live with honesty, they learn truthfulness
            *If children live with fairness, they learn justice
            *If children live with kindness and consideration, they learn respect
            *If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them
            *If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live

    Pelajaran Berharga (1)

         Pemandangan kurang menyenangkan ketika menggunakan jasa angkutan umum. Pasangan yang masih terbilang muda, dimana sang pria terlihat dan terdengar kesal dengan wanitanya karena cemburu dengan pria lain yang berusaha mendekati wanitanya tersebut. Sang pria memarahi wanitanya dengan beberapa kali mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas diucapkan, apalagi di tempat umum, dengan nada cukup tinggi.

         Beberapa waktu kemudian, sepertinya emosi si pria memuncak karena wanitanya berusaha diam (mungkin merasa malu karena dilihat oleh banyak orang yang juga mengendarai angkutan umum) mengambil telepon genggam wanitanya dan hendak menuliskan sesuatu, tentu saja wanita tersebut berusaha menolak dan karena merasa kesal akhirnya wanita itu menangis. Melihat wanitanya menangis, pria tersebut makin memarahi wanitanya dengan beberapa kali mendorong tubuh wanita tersebut, menyuruhnya diam. Ketika sang wanita mengambil sapu tangan dan hendak menyeka air mata, sang pria mengambilnya dan memukulkan sapu tangan tersebut beberapa kali ke kepala wanitanya. Wanita tersebut hanya terlihat diam dan pasrah sambil sesenggukan.

    Bagaimana pendapat Anda? (diambil dari kisah nyata)
    Welcome to my blog! Let's see how many things happened in my life and others. As we know, the best teacher in our life is called "experience". Enjoy!