Friday, June 9, 2017

Explore Norway: From Oslo to Bergen (2)

(Lanjutan tulisan berikutnya, setelah menulis lagi karena file sebelumnya “nyangkut” tidak bisa dibuka T_T….)


Kami berjalan sembari menikmati dinginnya hujan salju menuju Oslo Central Station. Awalnya, hujan salju turun sangat sedikit, namun semakin mendekati stasiun, hujan salju yang turun semakin deras dan angin yang berhembus makin kencang. Kami pun buru-buru memasuki stasiun untuk menghangatkan diri.

Selanjutnya kami mempersiapkan tiket untuk melanjutkan perjalanan ke Bergen dengan fjord tours, “Norway in a Nutshell”. Fjord Tours ini merupakan agen perjalanan di Norwegia yang mngantarkan para turis ke berbagai daerah dengan pemandangan klasik yang indah khas Norwegia, lengkap dengan wisata mulai dari melewati pegunungan dengan kereta, melewati aliran sungai yang jernih dan perumahan warna dengan bis, serta melintasi fjord dengan menggunakan kapal. Di Fjord Tours ini, kami tidak dibimbing oleh tour guide, dimana perjalanan ini memang disediakan bagi orang-orang yang menginginkan perjalanan dengan lebih “bebas”. 
Setelah menukarkan tiket fjord tours menuju Bergen, kami pun memulai perjalanan diawali dengan menggunakan kereta menuju Myrdal.


Beberapa saat setelah naik kereta dan kereta mulai bergerak, salah seorang wanita paruh baya yang melihat saya seketika langsung menghampiri dan menawarkan semacam buku saku sebagai panduan perjalanan menuju Bergen. Memang sih, rombongan kami benar-benar terlihat seperti turis dari Asia, terutama saya yang terlihat seperti "pendatang" yang butuh arahan dan bimbingan :D. Thank you, Lady!


Foto: Guide Book perjalanan dari Oslo menuju Bergen

Foto: Suasana di kereta

Kami menikmati perjalanan kereta yang "mampir" ke beberapa Daerah sebelum tiba di Bergen sambil melihat pemandangan penuh salju.

Foto: Menikmati perjalanan dengan pemandangan yang "dingin" menuju Myrdal

Kemudian kami pun tiba di Myrdal Station (Myrdal Stasjon) dan turun dari kereta, sebelum pindah ke kereta lain yang menuju Flåm. Myrdal merupakan suatu desa yang terletak di area pegunungan Norwegia. Ketika saya tiba disana, seluruh permukaan pegunungan dan dataran dipenuhi oleh salju yang cukup tebal, dengan suhu sekitar 0 derajat. Meski salju cukup tebal, namun udara tidak terasa terlalu dingin Karena angin tidak berhembus kencang dan matahari bersinar cerah. 

Foto: Menikmati dinginnya salju di Myrdal

Foto: Pemandangan di Myrdal Station

 Setelah menunggu beberapa menit sambil menikmati suasana salju, kereta klasik dengan gerbong berwarna hijau yang hendak membawa kami ke Flåm pun datang. Perjalanan menuju Flåm saya nikmati dengan kereta yang memiliki interior bernuansa coklat ini. Meskipun terlihat kuno, namun kereta ini terlihat sangat terawat dan yang paling penting: Bersih.

Perjalanan menuju Flåm saya nikmati dengan menikmati pemandangan mulai dari dinginnya suasana pegunungan dan bangunan seperti rumah khas Norwegia yang dipenuhi tumpukan salju, hingga hijaunya pemandangan pegunungan dan suasana kehidupan klasik khas Norwegia yang lebih hangat and asri.

Foto: Berfoto di bukit yang dipenuhi salju

Foto: Pemandangan yang mulai "menghijau"

Kami pun tiba di Flåm, dan turun dari kereta klasik, dan kemudian mencari kapal yang akan membawa kami untuk melanjutkan perjalanan “fjord tour” menuju Gudvangen. Flåm merupakan suatu desa yang memiliki perairan yang panjang yang dikelilingi oleh pegunungan yang terjal (Fjord yang terletak diujung bagian terdalam dari Aurlandfjorden, yang merupakan cabang dari Sognefjorden: bagian fjord yang terdalam dan terpanjang).


Saat itu, matahari bersinar cerah namun angin dingin yang berhembus cukup kencang, dengan suhu kurang lebih 7 derajat Celsius. Setelah bertanya ke tourism information dan beberapa orang yang kami temui, akhirnya kami pun menemukan kapal yang hendak membawa kami ke perjalanan selanjutnya.Inilah yang khas dari perjalanan di Norwegia. Fjord tour merupakan perjalanan dengan menggunakan kapal menyusuri perairan biru dan bersih yang panjang, diapit oleh pegunungan dataran tinggi yang terjal. Fjord ini sendiri terbentuk akibat erosi glasial. Saya pun tidak mau menyia-nyiakan momen, dan memberanikan diri keluar dan naik ke dek kapal dan mengambil gambar disana sembari menahan dinginnya angin yang berhembus sangat kencang.





Foto: Tiba di Flåm



Foto: Pemandangan dari balik jendela kapal

Foto: Indahnya pemandangan fjord dari atas dek kapal


Foto: Menikmati udara dingin dan bersih dari atas kapal


Setibanya di Gudvangen, kami turun dari kapal dan menunggu bis yang akan mengantarkan kami menuju destinasi selanjutnya yaitu Voss. Gudvangen merupakan suatu desa yang terletak di dekat sungai yang bermuara di Fjord. Saat saya tiba disana, udaranya cukup sejuk dan bersih dengan pemandangan pegunungan yang indah, didukung oleh matahari yang bersinar cerah dengan langit biru yang jernih. Tidak jauh dari tempat kami menunggu bis, terdapat jembatan kayu yang menghubungkan antara jalur kendaraan darat dengan jalan bagi pejalan kaki menuju pegunungan.


Foto: Saat menunggu bis di Gudvangen

Foto: Jembatan kayu di dekat pemberhentian bis


Beberapa menit kemudian, bis yang ditunggu-tunggu pun tiba. Kami langsung memasukkan koper ke bagasi bis dan duduk di dalam bis, menikmati perjalanan menuju Voss, dilanjutkan dengan perjalanan menuju stasiun Bergen dengan menggunakan kereta yang lagi-lagi berkesan “klasik”.


Foto: Pemandangan sungai yang bening dilihat dari dalam bis


Kami pun tiba di Voss, yaitu sebuah kotamadya sekaligus kawasan tradisional yang terletak di Hordaland, Norwegia. Setibanya di Voss, kami langsung berjalan kaki menuju stasiun untuk mencari kereta menuju Bergen.

Perjalanan “Norway in a Nutshell” pun berakhir saat kami tiba di Bergen Station (Finally!!). Lelah? Ya. Kami pun berjalan menuju dekat pintu keluar dan merencanakan perjalanan berikutnya: menuju hotel. Sebelum itu, karena hari mulai sore, kami mampir ke mini market di dalam stasiun untuk membeli makan malam untuk dimakan di hotel.
Setelah itu, saya mencoba mencari arah menuju P-hotel Bergen yang telah dipesan sebelumnya (Thanks to Google Map & Free WiFi!). Hotel yang berjarak sekitar 1.4 km ini pun akhirnya kam tempuh dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit sembari membawa koper. Beruntung, rasa lelah sedikit terobati karena suasana cerah di kota Bergen dan lokasi hotel yang dekat dengan taman indah (semacam alun-alun kota) yang tengahnya dihiasi oleh air mancur. Setibanya di hotel, saya pun segera beristirahat sembari menikmati pemandangan dari balik jendela kamar.

Foto: Taman di Bergen


Foto: Suasana malam di kota Bergen dari balik jendela kamar hotel


(Bersambung ke tulisan berikutnya….)


Monday, June 5, 2017

Explore Norway: From Oslo to Bergen (1)

Assalamu'alaikum.... Setelah beberapa waktu pergi sana-sini sambil menyambut bulan suci Ramadan, akhirnya selesai sudah tulisan pengalaman perjalanan saya berikutnya. Semoga dapat menghibur sekaligus menambah wawasan bagi para pembaca, dan semoga tidak menimbulkan penyesalan setelah membaca tulisan saya 😀

Senin 24 April 2017 lalu, kami melakukan perjalanan menuju Oslo via pesawat dari bandara Kastrup, Denmark. Penerbangan empat delay sekitar 2 jam karena cuaca yang kurang kondusif di Oslo. 

Oslo merupakan ibukota dari negara Norwegia yang terletak di pantai selatan Norwegia. Kota ini menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan, sekaligus memiliki penduduk paling banyak dibandingkan dengan kota-kota lain di Norwegia.


Foto: Menunggu di Waiting Room Kastrup Airport, Denmark

Dan benar saja, saat tiba di Oslo, salju pun turun dan tampak petugas bandara sedang membersihkan area parkir dan landasan pacu pesawat terbang. Saat itu, suhu udara kurang lebih minus 1 derajat dan angin yang tampaknya berhembus cukup kencang bila dilihat dari balik kaca terminal bandara. Saya sempat khawatir, apakah outfit yang saya kenaikan cukup untuk menghangatkan diri bila berjalan diluar ruangan. Saya pun mencoba mengendalikan "pikiran" bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik.

Foto: Pemandangan salju yang turun dari balik lorong menuju terminal Bandara di Oslo


Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta menuju Oslo Central Station. Perjalanan naik kereta pun saya nikmati karena penuh dengan pemandangan salju yang tentunya tidak dapat saya jumpai di negara tropis seperti Indonesia, terutama di pulau Jawa 😂


Foto: Pemandangan penuh salju selama perjalanan menuju Oslo Central Station


Setibanya di stasiun, kami melanjutkan perjalanan menuju  hotel yang berjarak sekitar 1,5 km dengan... Berjalan Kaki! Perjalanan ke hotel pun terasa "menyenangkan" sambil menikmati rasa "kedinginan" di sore hari waktu setempat. bersyukur, udara yang dingin cukup mengurangi rasa lelah karena berjalan sembari membawa koper, dan selama perjalanan menuju hotel udara dingin cukup bersahabat karena salju tidak tampak. Akhirnya kami pun tiba di hotel yang memiliki desain khas Eropa.

Foto: Penampakan bagian dalam Hotel dengan Lift yang ditutup Pintu


Setibanya di hotel, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar. Ketika sinar matahari mulai redup, saya berniat untuk berjalan kaki sendiri di sekitar hotel sambil mencari makan malam. Beruntung di sekitar hotel banyak toko dan resto. Saya pun berjalan kaki dan  memilih resto yang aman dan halal untuk dikonsumsi, yaitu resto timur tengah dan membeli nasi buryani untuk kemudian dibawa ke kamar hotel. Sembari menunggu pesanan saya yang masih dimasak, saya pun disuguhkan segelas teh panas yang pekat dengan sensasi sedikit rasa "pedas" untu menghangatkan diri.

Foto: Segelas teh yang (benar-benar) panas dan semacam creamer atau gula (?)

Setelah pesanan saya datang dan selesai bertransaksi dengan pemilik resto, selanjutnya saya melanjutkan perjalanan ke ujung persimpangan untuk mencari mini market. Setelah itu saya bergegas kembali ke hotel karena udara yang semakin dingin, meski saat itu tidak turun salju.

Foto: Pemandangan di sekitar hotel pada sore hari menjelang malam

Sesampainya di kamar hotel, saya pun merasa kelaparan, entah karena kedinginan atau karena saya (memang) doyan makan. saya pun menikmati nasi biryani yang saya beli sebagai menu makan malam yang (ternyata) banyak! 😂 Setelah itu, saya "menyimpan tenaga" untuk perjalanan keesokan harinya.

Foto: Menu makan malam: Nasi Biryani

Keesokan paginya, kami bergegas check out dari hotel setelah menikmati sarapan, menuju Oslo Central Station dengan berjalan kaki.  Saat itu, kami berjalan ditemani salju yang dengan lembut turun dari langit (suhu sekitar minus 1-4 derajat).

Foto: Perjalanan menuju Oslo Central Station ditemani hujan salju

(Bersambung ke tulisan berikutnya....)





Sunday, May 21, 2017

Explore Denmark: Amalienborg Palace

Hari ketiga tiba di Denmark, kami diajak berkunjung ke istana ratu Denmark, Amalienborg Palace, yang berlokasi di Amalienborg Slotsplads 5, 1257 København K, Denmark. Istana ini merupakan tempat tinggal bagi Danish Royal Family.  Kepala negara Denmark saat ini adalah Ratu Margrethe II yang telah memimpin sejak 1972. Berdasarkan informasi dari Wikipedia, tempat ini terdiri dari empat bangunan istana berdesain klasik dengan gaya Rococo, yang mengelilingi halaman berbentuk segi delapan.  Di halaman tengah tersebut terdapat sebuah patung monumental pendiri Amalienborg, yaitu raja Frederick V yang sedang berkuda. 


Foto: Amalienborg Palace



Foto: Frederick V of Denmark


Tujuan utama kami ke istana ini adalah untuk melihat pergantian pasukan pengaman istana, atau bagi para turis biasa disebut dengan "Changing of The Guard Tour". Jadwal pergantian pasukan pengamanan pada pukul 12.00 waktu Denmark. Pada saat itu, kami tiba di istana sekitar pukul 11.30, sehingga kami masih punya beberapa waktu untuk berkeliling halaman istana. Angin yang kencang dengan suhu kurang dari 10 derajat Celcius membuat saya cukup kedinginan, meskipun sudah mengenakan 3 lapis pakaian termasuk coat yang cukup tebal. Kondisi itu membuat saya memiliki 2 pilihan, berjalan dan banyak bergerak atau masuk ke mobil untuk menghangatkan diri. Karena tidak mau menyia-nyiakan waktu, saya pun memilih untuk berjalan-jalan melihat sekeliling istana. Dari jalan utama, saya belok ke sebelah kiri istana utama. Disana saya menemui taman yang terdapat air mancur dan sebuah danau. Orang Danish menyebutnya "Amaliehavn" (The Amalie Garden).
Foto: Amaliehavn


Setelah puas melihat-lihat dan berfoto, udara makin terasa dingin dan langit yang cerah seketika berubah mendung. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 11.40, masih ada 20 menit lagi waktu untuk menunggu jadwal pergantian pasukan pengamanan. Karena mulai merasa kedinginan, kami pun memutuskan untuk menunggu di dalam mobil sembari menghangatkan diri. Tiba waktunya pukul 11.50, saya bergegas keluar dari mobil yang parkir tidak lebih dari 100 meter dari halaman depan istana. Ketika itu para wisatawan yang berkunjung mulai mengerumuni halaman dengan gerbang utama istana, karna beberapa penjaga mulai menyiapkan lokasi tempat diadakannya pergantian pasukan pengamanan istana. Saat itu langit mulai mendung dengan angin berhembus cukup kencang. Dan ketika para pasukan mulai berbaris, para pengunjung pun (termasuk saya) sibuk mengabadikan lewat foto  dan rekaman video. Meski gerimis turun, tidak menyurutkan antusiasme para pengunjung dari berbagai usia untuk menyaksikan momen pergantian pasukan pengamanan istana tersebut. Sayangnya, saya kehilangan beberapa file foto dan video prosesi pergantian pasukan tersebut, sehingga tidak banyak dokumenasi yang bisa saya bagikan di tulisan ini 🙁 

Foto: The Guards


Foto: Changing Guard


Saturday, May 13, 2017

Explore Denmark: Sakura at Langelinie Park, Copenhagen

Hari pertama tiba di Copenhagen yaitu pada 21 April 2017 lalu, saya diajak berjalan-jalan di salah satu taman yang menjadi daya tarik wisata di Copenhagen, yaitu Langelinie Park. Taman ini beralamat di Langeliniekaj 2, 2100 København, Denmark. Langelinie atau yang dalam bahasa Inggris berarti "Long Line", merupakan taman, dermaga, serta tempat bagi pejalan kaki dan pesepeda yang berada di pusat Copenhagen, Denmark. Langelinie ini sekaligus menjadi "rumah" bagi patung The Little Mermaid (seperti ulasan saya di blog post sebelumnya). Area ini telah lama menjadi tujuan utama bagi turis dari berbagai belahan dunia untuk berkunjung (sumber: en.wikipedia.org). Dari lokasi patung The Little Mermaid, Saya cukup berjalan beberapa ratus meter untuk mendapatkan pemandangan indah dan merasakan sensasi musim semi.


Foto: Pohon Sakura di Taman Langelinie, Kopenhagen


Pada saat musim semi seperti sekarang ini, pemandangan di taman sangatlah cantik, karena di satu area disana banyak ditumbuhi oleh pohon sakura yang sedang bermekaran. Tidak tanggung-tanggung, pohon sakura yang bermekaran indah itu sejumlah 200 pohon! Tidak heran bila saat berada disana, kita akan sangat merasakan suasana khas Jepang. Dan tiap tahunnya, di taman ini diadakan Copenhagen Sakura Festival, tepatnya tiap musim semi. Pada 29-30 April 2017 lalu pun diadakan festival sekaligus memperingati hubungan kerjasama diplomatik antara Jepang dan Denmark yang ke 150 tahun (sumber: www.littlescandinavian.com).  
Sayangnya, pada saat festival tersebut diselenggarakan, saya sedang berada di tempat lain sehingga tidak dapat menyaksikan langsung🙁

Melihat keindahan bunga sakura yang bermekaran, saya pun penasaran dengan asal muasal pohon-pohon sakura ini. Dengan bertanya ke beberapa orang yang saya temui dan mencari informasi melalui situs-situs resmi yang terpercaya, saya pun mencoba mengulas secara singkat mengenai taman sakura di Copenhagen ini, sekedar untuk menambah wawasan.


Foto: Pohon Sakura dan Icon Langelinie Park, Kopenhagen

Pohon-pohon sakura atau dalam bahasa Inggris disebut "cherry blossoms", yang ditanam di Langelinie Park, Copenhagen merupakan hadiah yang diberikan oleh Konsul Kehormatan Denmark di Hiroshima, Jepang pada 2005, untuk memperingati dua abad dari pendongeng asli Denmark, Hans Christian Andersen. Festival Sakura sendiri diadakan mulai tahun 2007. Agak berbeda dengan pohon sakura yang umumnya berwarna "pink", disini kita dapat menikmati keindahan bunga-bunga sakura yang berwarna lebih pucat  dari jauh terlihat seperti tumpukan kapas.

Foto: dari sisi jalur pejalan kaki dan sepeda Langelinie Park, Kopenhagen

Tuesday, May 9, 2017

Explore Denmark: The Little Mermaid Statue


    Alhamdulillah, beberapa waktu lalu saya diberi kesempatan untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Kesempatan ini pun tidak saya sia-siakan begitu saja. Atas ide dari seorang teman yang suka menulis, saya pun kemudian mengabadikan momen kunjungan saya ke dalam bentuk tangkapan layar dan tulisan. dan inilah tulisan pertama saya tentang perjalanan yang saya lakukan.

    Saat berkunjung ke Copenhagen, Denmark, tidak lupa saya mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dan umum didatangi para turis. Salah satunya adalah patung “The Little Mermaid”, atau dalam bahasa Danish "Den lille havfrue".  Patung yang terbuat dari perunggu ini diciptakan oleh Edvard Eriksen, yang ditampilkan di atas sebuah batu besar di pinggiran tempat beberapa kapal layar berlabuh. Patung ini beralamat di Langelinie, 2100 København Ø, Denmark. Patung ini terinspirasi dari dongeng yang diciptakan oleh penulis asli Denmark, Hans Christian Andersen. Patung ini menjadi salah satu daya Tarik terbesar bagi para turis untuk berkunjung ke Denmark sejak 1913 (sumber wikipedia.org)


 (Foto: The Little Mermaid Statue)


    Saat saya berkunjung kesana pun, Patung ini ramai dikerumuni, entah oleh para turis maupun para penduduk setempat. Meskipun saat itu sudah menjelang sore dengan langit mendung berawan dan angin berhembus kencang terasa cukup menusuk kulit, masih banyak orang yang berada di dekat patung tersebut untuk mangabadikan momen di sekitar patung ini.


(Foto: Pemandangan dari atas, terlihat beberapa turis berfoto di dekat patung The Little Mermaid)

    Bagi yang belum membaca atau menonton cerita The Little Mermaid, ulasan yang saya tulis mungkin dapat sedikit menambah wawasan pembaca tentang dongeng putri duyung ini. Sebenarnya, dongeng putri duyung kecil ini telah memiliki banyak versi cerita, hingga saat ini tidak ada yang mengetahui bagaimana versi asli dari cerita sebenarnya. Saya mencoba menceritakan kembali kisah putri duyung kecil berdasarkan cerita yang saya baca di salah satu website yang terpercaya.

    The Little Mermaid merupakan dongeng ke-16 H.C Andersen, yang dipublikasikan pertama kali pada April 1837 dengan judul asli berbahasa Danish "Den lille havfrue". Dongeng ini mengisahkan tentang seorang putri duyung yang rela menyerahkan hidupnya dan identitas dirinya sebagai seorang duyung pada lautan untuk memperoleh jiwa sebagai manusia. Putri duyung merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara yang tinggal bersama kelima kakaknya, ayah yang merupakan seorang raja laut yang telah bertahun-tahun menduda, serta neneknya yang sangat menyayanginya. sehari-hari, sang putri bermain di aula istana dasar laut. Ia selalu mendambakan saat-saat dirinya dapat melihat kehidupan di atas laut. Suatu hari, sang nenek berkata bahwa saat berusia 15 tahun putri duyung dapat naik ke atas laut dan bermain di bebatuan untuk melihat kapal dan dunia daratan. Sang putri duyung bungsu pun sangat menanti saat dirinya menginjak usia 15 tahun. 
    Hingga sampai pada waktunya ia menginjak usia 15 tahun, putri duyung bungsu pun mendapatkan izin untuk berenang hingga ke atas laut dan melihat kehidupan di daratan. Ketika itu, putri duyung bungsu melihat sebuah kapal pesiar dengan banyak manusia di dalamnya sedang merayakan pesta. Salah satu yang dilihatnya adalah seorang pria tampan yang tidak lain merupakan seorang pangeran berusia 16 tahun. Putri duyung bungsu pun seketika langsung mengagumi ketampanan dan senyuman sang pangeran yang sedang bercengkerama dengan para penumpang kapal lainnya. 
    Hingga tiba saatnya perahu yang ditumpangi pangeran berlayar. Ketika itu angin bertiup kencang dan seketika langit berubah menjadi gelap dan badai pun datang. Gelombang ombak yang kencang membuat perahu yang ditumpangi pangeran dan penumpang lain terbelah dua, dan putri duyung bungsu melihat sang pangeran tenggelam. Putri duyung tidak ingin sang pangeran turun ke dasar laut menemui ayahnya sebagai seorang yang tidak bernyawa, oleh karenanya ia langsung berenang menghampiri sang pangeran yang tidak sadarkan diri untuk menolongnya. Putri duyung kecil berenang membawa sang pangeran tampan ke daratan dekat sebuah bangunan putih besar dan merebahkan tubuh pangeran yang masih tidak sadarkan diri ke pohon palem yang disinari oleh matahari. Putri duyung kecil kemudian bergegas sembunyi di dalam air saat mendengar ada beberapa orang yang keluar dari istana. Salah seorang perempuan muda yang baik hati tidak sengaja mendekati sang pangeran tampan yang tengah berbaring dan dengan panik berteriak memanggil bala bantuan untuk sang pangeran. Tidak lama kemudian pangeran tampan tersebut sadarkan diri dan tersenyum melihat ke sekitar orang yang berkerumun di dekatnya, namun tidak ke putri duyung yang bersembunyi. Putri duyung yang menyaksikan kejadian tersebut sembari bersembunyi tetiba merasa sedih dan kemudian berenang kembali ke dasar laut. Sejak kejadian itu, sang putri duyung bungsu merahasiakan ceritanya dan terus merasa sedih karena tidak dapat bertemu lagi dengan sang pangeran.
    Sampai pada suatu saat ia bercerita pada salah satu kakaknya, dan kakaknya pun membantunya untuk mencari kerajaan pangeran tersebut. Usaha pencarian pun berbuah manis, dan setiap hari sang putri duyung muda memandangi pangeran tampan sembari bersembunyi di dekat istana. Sampai pada suatu saat putri duyung muda bertanya pada sang nenek, mengapa manusia tidak dapat hidup lama seperti halnya duyung yang dapat hidup ratusan tahun. Neneknya pun memberikan alasan, dan menjelaskan bahwa ketika duyung meninggal, maka jiwanya akan lenyap seperti buih ombak. Sedangkan apabila manusia meninggal, raganya akan menyatu dengan tanah namun jiwanya akan hidup abadi di surga yang indah, yang tidak pernah dilihat sebelumnya di bumi. Sang putri duyung kecil pun berkata bahwa ia bersedia merelakan kehidupan 300 tahunnya demi merasakan kehidupan manusia. Awalnya sang nenek menolak, namun kemudian dia berkata bahwa putri duyung kecil dapat mewujudkan keinginannya untuk memperoleh jiwa yang abadi di kehidupan Surgawi apabila ada seorang laki-laki yang mencintai dirinya dengan sepenuh hati melebihi cinta laki-laki tersebut kepada kedua orang tuanya. Apabila pria tersebut berjanji untuk setia dan hidup bersama selamanya, maka putri duyung kecil dan pria tersebut dapat hidup bersama sebagai manusia. Namun hal tersebut mustahil, karena manusia melihat kecantikan dari tubuh yang dibuatnya sebagai kaki, yang tidak dimiliki oleh seekor duyung.
    Kecintaannnya pada pangeran yang melebihi apapun membuat putri duyung kecil bersikeras ingin memenangkan hati sang pangeran. Ia pun kemudian berenang menjauhi tempat tinggalnya dan mendekati kumparan air yang ternyata mengantarkannya ke rumah seorang penyihir laut. Awalnya sang putri duyung kecil merasa ketakutan akan suasana yang menyeramkan disana, namun kemudian sang penyihir berkata, "Aku tahu apa yang kamu inginkan. Kamu ingin menghilangkan ekormu dan menggantinya dengan sepasang kaki manusia, kemudian mendatangi pangeran untuk memenangkan hatinya dan memperoleh jiwa yang abadi bersamanya.". Penyihir kemudian melanjutkan, "Aku dapat membantumu. Yang harus kau lakukan adalah berenang ke tepian sebelum matahari terbit, naiklah ke daratan dan minumlah ramuan yang kubuat. Kelak ekor mu akan terbelah dan berubah menjadi sepasang kaki yang indah. Kamu akan memiliki kaki yang indah dan mahir berdansa, namun hal tersebut akan terasa sangat sakit seperti ditusuk-tusuk pisau. Apakah kamu mau menerima itu semua?". Dengan membayangkan sang pangeran, putri duyung kecil pun menerima tawaran sang penyihir. Penyihir kemudian mengingatkan bahwa sekali sang putri duyung kecil menjadi manusia, ia tidak dapat kembali lagi menjadi seekor duyung, dan ia pun tidak dapat kembali berkumpul lagi dengan ayah dan keluarganya. Selain itu, apabila putri duyung tidak dapat memenangkan hati pangeran tampan hingga membuatnya melupakan orangtuanya dan mengikat janji hingga pernikahan, maka sang putri duyung kecil tidak akan dapat memperoleh jiwa yang abadi. Ditambah lagi, apabila sang pangeran memutuskan untuk menikahi perempuan lain, maka sang putri duyung kecil akan patah hati setiap harinya, hingga kemudian di suatu pagi dirinya berubah menjadi buih ombak di lautan. Karena kecintaannya dengan sang pangeran yang begitu dalam, putri duyung kecil pun menyanggupi resiko yang akan diterimanya.
    Namun, ternyata penyihir memberikan syarat untuk memenuhi keinginan putri duyung kecil. Sang penyihir mengetahui hal terbesar yang dimliki putri duyung yaitu suara indahnya hingga penyihir pun ingin mengambil dan memilikinya. Sang penyihir berusaha merajuk putri duyung kecil hingga akhirnya ia menyetujui keinginan sang penyihir. Penyihir kemudian memberikan ramuannya kepada putri duyung kecil dan memotong lidah putri duyung kecil. Putri duyung kecil saat ini tidak mampu bernyanyi maupun berbicara. Setelah itu, putri duyung kecil meminum ramuan setelah berada di dekat istana sang pangeran. Ramuan yang pahit tersebut membuatnya tidak sadarkan diri dan ketika tersadar, sang pangeran tampan telah berada di dekatnya bersama seorang pelayan dan membawanya masuk ke dalam istana.  Saat pangeran bertanya identitas dirinya, sang putri duyung tidak mampu berbicara untuk menjawab maupun menulis untuk memberitahu. Ia kini menjadi gadis cantik yang bisu dan lugu. Namun ia disukai oleh seluruh penghuni istana. Dan saat waktu berdansa, sang duyung kecil yang disebut oleh pangeran sebagai "dear little foundling" itu pun mampu menggerakkan kaki indahnya dengan gemulai sehingga memukau seluruh penghuni istana yang menyaksikannya berdansa, tidak terkecuali sang pangeran. Hari demi hari, sang putri duyung kecil makin dekat dengan sang pangeran. Sang pangeran pun makin menyayangi sang putri duyung kecil yang dianggapnya cantik dan tulus menyayanginya. Pangeran tampan berkata, "Engkau mengingatkanku pada seorang wanita yang menolongmu saat aku tenggelam ketika hujan badai, dimana orang lain sibuk untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dirimu sangat mirip dengannya dan aku mencintaimu. Kita tidak akan pernah berpisah." Jelasmya kepada putri duyung kecil.
    Beberapa waktu berlalu, tersebar rumor bahwa pangeran akan menikahi putri dari kerajaan seberang. Hal ini didasarkan atas keinginan sang raja, dan pangeran pun terpaksa menurutinya. Sang pangeran berkata pada putri duyung kecil "Aku terpaksa melakukan perjalanan ke istana seberang dan menemui putri tersebut karena ayahku, namun aku tidak akan pernah mencintainya. Aku hanya ingin menikahimu, gadis ku yang bisu dan lugu." Dan ketika sang pangeran bertemu dengan putri dari kerajaan seberang yang ternyata berparas cantik jelita, berambut panjang, dan bermata biru, ia pun teringat bahwa putri tersebut adalah gadis yang menolongnya ketika ia tenggelam dan terdampar I daratan dekat bangunan putih. Pangeran pun terkejut dan jatuh cinta seketika dengan putri tersebut. Pangeran pun memutuskan untuk menikahi sang putri dari kerajaan seberang. Putri duyung kecil merasa sangat sedih, karena sebenarnya ia lah yang menolong pangeran saat tenggelam dan meletakkan pangeran ke daratan hingga ditemukan oleh putri dari kerajaan seberang tersebut, namun ia tidak dapat mengatakannya. Ketika menjelang malam, sang putri duyung semakin larut dalam kesedihan dan meratapi dirinya yang telah rela mengorbankan hidupnya, menjauhi keluarganya, dan rela kehilangan suara indahnya demi pangeran yang saat ini telah menikah dengan putri lain.
Ketika malam menjelang dan melihat ke bawah laut, putri duyung kecil melihat saudaranya berada di bawah laut. Kakaknya berkata "Kami memotong rambut dan memberikannya kepada penyihir laut sebagai imbalan atas permintaan kami agar kamu dapat kembali ke dasar laut bersama kami. Penyihir memberikan pedang ini dan berkata bahwa kamu dapat menusuk pangeran tepat di jantungnya. Dan ketika kamu menusuknya sebelum matahari terbit, dan darahnya mengalir ke kakimu, maka itu akan mengubah kakimu menjadi ekor ikan seperti sedia kala. Kamu pun dapat kembali hidup di laut bersama kami.".
    Putri duyung kecil kemudian berjalan memasuki kamar pengantin sembari membawa pedang yang diberikan oleh kakakknya. Saat mendekati pangeran yang tengah tertidur pulas bersama pengantinnya, sang putri duyung kecil tidak sampai hati membunuh sang pangeran dan mencium kening sang pangeran. Hinggap tiba waktunya matahari terbit, putri duyung pun bersiap terjun ke laut dan berubah menjadi bulir ombak. Saat matahari terbit, putri duyung kecil tidak merasakan kematian pada dirinya. Ia justru merasa dirinya berubah menjadi sangat transparan dan jiwanya naik ke langit dan mendengar suara-suara yang tidak berwujud. Itu adalah suara putri angin. Para putri angin menjelaskan bahwa karena pengorbanan tulus yang dimiliki sang putri duyung kepada manusia yang dicintainya, maka ia tidak mati sebagai bulir ombak, namun jiwanya dapat hidup abadi. Sesaat itu juga sang putri duyung merasakan sesuatu yang hangat dapat meneteskan air matanya untuk pertama kali. (Cerita lengkap di http://www.andersen.sdu.dk).


(Foto: Bersama patung "The Little Mermaid")

    Hingga kini, Patung “The Little Mermaid” masih tetap menjadi icon dari Copenhagen, Denmark. Meskipun patung ini telah mengalami beberapa kali perusakan yang dilakukan oleh sejumlah oknum, namun patung ini terus diperbaiki. Dan sejak penciptanya meninggal dunia, telah banyak patung replica yang dibuat oleh keluarga dari sang pencipta dan diletakkan di berbagai tempat di negara lain, seperti New Zealand, Columbia, maupun Canada (sumber Wikipedia.org).



Sunday, May 15, 2016

Parenting class bersama @kongkowparenting

Alhamdulillah, di hari Minggu pagi ini masih diberi kesempatan untuk belajar, setelah beberapa hari sebelumnya sempat off karena harus bedrest.

Berikut ini poin penting dari hasil belajar bersama @kongkowparenting chapter 1.

"Anak Kita Bukan Kita" by Munif Chatib.

100% orangtua mengenal anaknya secara fisik, tapi apakah orangtua mengenal anaknya secara psikologis?

"Yakin setiap anak punya potensi, bagaimanapun kondisinya".

Untuk lebih mengenal anak secara psikologis, pahami potensinya. Potensi anak dapat dilihat dari:
1. Minat sebagai kemampuan anak
2. Potensi muncul sebagai pengaruh kepada lingkungan
3. Potensi itu bakat, fitrah dari Tuhan
4. Bakat terkait dengan pemenuhan kebutuhan anak
5. Bakat terlihat dari rasa suka
6. Bakat biasanya memunculkan banyak "special moment"
7. Bakat itu "pembelajar cepat"
8. Orangtua menjadi katalisator pengembang bakat anak
9. Sekolah menjadi pengembang bakat anak.

Sebagai penutup, sila merenungkan puisi yang ditulis oleh Kahlil Gibran ini: "Anakmu bukanlah milikmu. Mereka adalah putra-putri Sang Hidup, yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka lahir lewat engkau, tetapi bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu".

Sila di-share, mari belajar bersama untuk menjadi masyarakat yang lebih cerdas & peduli terhadap kesejahteraan anak Indonesia, untuk masa depan bangsa yang lebih baik.


Thursday, March 10, 2016

Pelajaran berharga..(3)

Kamis, 10 Maret 2016. 12.53 WIB. Di pinggir jalan kawasan Merr Surabaya  sebuah mobil tipe minibus warna putih berhenti. Pengemudi kemudian keluar dari pintu, menutup pintu dengan kencang (terdengar hingga tengah jalan jarak kurang lebih 100 meter). Pengemudi mobil tersebut kemudian membuka pintu bagian kiri belakang mobil, menarik tangan kecil yang ada di dalamnya untuk keluar -seorang anak perempuan usia prasekolah dengan seragamnya-. Pengemudi lalu menggendong anak perempuan tersebut pada bagian pinggang si anak dengan kedua tangannya, mengangkat anak tersebut, membawanya ke jarak kurang lebih 1.5meter dari bagian belakang mobil, dan menurunkan anak perempuan tersebut. Pengemudi lalu kembali memasuki mobil tersebut, hendak meninggalkan si anak. Terdengar teriakan si anak, namun sang pengemudi yang merupakan laki2 berusia sekitar 40-50 tahun mengabaikan teriakan anak dengan wajah marah.

Kejadian tidak menyenangkan terhadap anak semacam ini seringkali terlihat, di kota besar, dan di tempat umum. Sayangnya, sebagian besar kejadian dilakukan oleh etnis tertentu (maaf tidak disebutkan untuk menghindari isu SARA) dan dari status sosial ekonomi menengah keatas. Bahkan, mereka kerap menyakiti sang anak secara fisik.

Perlu disadari, apapun yang kita lakukan pada anak, akan selalu diingat hingga anak beranjak dewasa, dan tidak sedikit dari anak akan meniru perlakuan yang diterimanya.

Bisakah kita, orang dewasa, bersikap lebih layak terhadap anak? Dan tidak hanya mengajarkan anak untuk mengejar materi dan mementingkan ego, namun juga mengajarkan anak tentang aspek hidup lainnya, seperti komunikasi, empati, hormat, dan menghargai?

Wednesday, November 12, 2014

VALIDITAS DAN RELIABILITAS




Pict: mind map of Validity & Reliability 


Dalam setiap pengukuran penelitian yang bersifat kuantitatif, validitas dan reliabilitas menjadi hal yang penting, terutama pada pengukuran terhadap hal-hal yang bersifat covert seperti pada konstruk sosial maupun psikologis dimana hal yang diukur tidak dapat langsung teramati secara inderawi. Untuk itu, diperlukan adanya konsep validitas dan reliabilitas dalam setiap pengukuran tersebut. Untuk mengenal dan memahami lebih jauh, berikut terdapat beberapa pertanyaan mengenai validitas dan reliabilitas beserta jawabannya yang mengacu pada referensi-referensi yang
terkait:

(What) Apa yang dimaksud dengan validitas dan reliabilitas?
Validitas
  1. Menurut Neuman (2007), validitas menunjukkan keadaan yang sebenarnya dan mengacu pada kesesuaian antara konstruk, atau cara seorang peneliti mengkonseptualisasikan ide dalam definisi konseptual dan suatu ukuran. Hal ini mengacu pada seberapa baik ide tentang realitas "sesuai" dengan realitas aktual. Dalam istilah sederhana, validitas membahas pertanyaan mengenai seberapa baik realitas sosial yang diukur melalui penelitian sesuai dengan konstruk yang peneliti gunakan untuk memahaminya.
  2. Menurut Anastasi & Urbina (1998), validitas yaitu mengenai apa dan seberapa baik suatu alat tes dapat mengukur, sedangkan reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika diuji berulang kali dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau dibawa kondisi pengujian yang berbeda.
  3. Menurut Azwar (1987, dalam Widodo, 2006) menyatakan bahwa validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukur (tes) dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes dikatakan memiliki validitas
    yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukur secara tepat atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Artinya hasil ukur dari pengukuran tersebut merupakan besaran yang mencerminkan secara tepat fakta atau keadaan sesungguhnya dari apa yang diukur.
  4. Suryabrata (2000, dalam Widodo, 2006) menyatakan bahwa validitas tes pada dasarnya menunjuk kepada derajat fungsi pengukurnya suatu tes, atau derajat kecermatan ukurnya suatu tes. Validitas suatu tes mempermasalahkan apakah tes tersebut benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Maksudnya adalah seberapa jauh suatu tes mampu
    mengungkapkan dengan tepat ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur, akan tergantung dari tingkat validitas tes yang bersangkutan.
  5. Sudjana (2004, dalam Widodo, 2006) menyatakan bahwa validitas berkenaan dengan ketepatan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang
    seharusnya dinilai
Reliabilitas
  1. Menurut Neuman (2007), reliabilitas berarti keandalan atau konsistensi. Hal ini menunjukkan
    bahwa pengukuran atribut yang sama diulang akan memberikan hasil kondisi yang identik atau sangat mirip. Reliabilitas dalam penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa hasil numerik yang dihasilkan oleh suatu indikator tidak berbeda karena karakteristik dari proses pengukuran atau instrumen pengukuran itu sendiri. Kebalikan dari reliabilitas adalah pengukuran yang memberikan hasil yang tidak menentu, tidak stabil, atau tidak konsisten.
  2. Menurut Anastasi dan Urbina (1998) reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang
    dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen yang berbeda, ataupun dibawah kondisi pengujian yang berbeda.
  3. Reliabilitas berasal dari kata reliability yang berarti sejauh mana hasil suatu pengukuran memiliki keterpercayaan, keterandalan, keajegan, konsistensi, kestabilan yang dapat dipercaya. Hasil ukur dapat dipercaya apabiladalam beberapakali pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama (Azwar, 2011).
(Who) Siapa tokoh yang berperan dalam konsep validitas dan reliabilitas?
Tokoh pertama yang mendefinisikan reliabilitas adalah Spearmen-Brown (Setyawan, 2011)

(Why) Mengapa kita perlu validitas dan reliabilitas?
Menurut Jacobs (1991), validitas dan reliabilitas diperlukan untuk:
  1. Validitas digunakan sebagai pengembangan dan pengevaluasian suatu tes.
  2. Reliabilitas digunakan sebagai indikator dalam mempercayai nilai dari suatu tes karena
    memiliki konsistensi
(When) Kapan validitas dan reliabilitas berfungsi/berlaku dan kapan tidak berfungsi?
Validitas
Ketika peneliti mengatakan bahwa suatu indikator itu valid, maka itu valid untuk tujuan dan definisi
tertentu. Indikator yang sama bisa valid untuk satu tujuan (misal pertanyaan penelitian dengan unit analisis atau secara umum), tetapi bisa kurang valid atau tidak valid untuk hal yang lainnya. Misalnya dalam mengukur prejudice, bisa valid untuk mengukur prejudice para guru, tapi bisa jadi tidak valid untuk digunakan dalam mengukur prejudice dari para polisi. Tidak adanya validitas terjadi jika tidak terdapat kesesuaian atau kesesuaian yang rendah antara konstruk yang digunakan untuk
menggambarkan, membuat teori atau menganalisis dunia sosial dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia sosial (Neuman, 2007).
Reliabilitas
Jika terhadap bagian obyek ukur yang sama, hasil ukur melalui butir yang satu tidak konsisten dengan hasil ukur melalui butir yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya. Dengan kata lain, alat ukur tidak reliabel dan tidak dapat digunakan untuk mengungkap ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur. Kemudian apabila hasil pengukuran pada bagian obyek ukur yang sama antara butir yang satu dengan butir yang lain saling kontradiksi atau tidak konsisten maka kita tidak bisa menyalahkan obyek ukur,
melainkan alat ukur (tes) yang dipersalahkan dengan mengatakan bahwa tes tersebut tidak reliabel terhadap obyek yang diukur (Sugiyono, 2010).

(How Much) Berapa macam/jenis validitas dan reliabilitas dalam riset
atau alat ukur?

Menurut Neuman (2007), terdapat tiga jenis validitas pengukuran, antara lain:
  1. Face validity. Ini merupakan validitas yang paling mudah untuk dicapai dan sebagian besar jenis dasar dari validitas adalah face validity. Hal ini memerlukan pertimbangan dari komunitas ilmiah bahwa indikator benar-benar dapat digunakan untuk mengukur suatu konstruk. Kesesuaian antara definisi dan metode pengukuran yang digunakan merujuk pada pertimbangan dari suatu konsensus komunitas ilmiah atau penilaian dari orang lain.
  2. Content vatidity. Validitas ini membahas mengenai definisi konseptual yang berisi ide-ide dan konsep dapat direpresentasikan dalam suatu pengukuran. Validitas isi melibatkan tiga langkah. Pertama, menentukan definisi konstruk dari seluruh konten. Selanjutnya, ambil sampel dari semua bidang definisi. Kemudian, mengembangkan indikator yang mewakili semua bagian dari definisi.
  3. Validitas Kriteria. Validitas kriteria menggunakan beberapa standar atau kriteria untuk mengindikasi konstruk secara akurat. Validitas dari indikator diverifikasi dengan cara membandingkannya dengan ukuran lain dari konstruk yang sama yang diterima secara luas. Ada dua subtipe dari jenis validitas kriteria, yaitu:
  • Validitas konkuren. Indikator harus dikaitkan dengan indikator yang sudah ada sebelumnya dan dinilai sebagai valid (misalnya, telah memiliki face validity).
  • Validitas prediktif. Validitas kriteria dimana indikator memprediksi kejadian masa depan yang logis terkait dengan suatu konstruk. Hal ini tidak dapat digunakan untuk semua ukuran. Ukuran dan tindakan yang diprediksi harus berbeda, tetapi dapat menunjukkan konstruk yang sama. Validitas pengukuran prediktif tidak perlu dibingungkan dengan prediksi dalam pengujian hipotesis, di mana satu variabel memprediksi variabel yang berbeda di masa depan.
Selain itu, menurut Sugiyono (2004), jenis-jenis validitas yaitu sebagai berikut:
  1. Validitas konstruksi (construct validity); dengan menggunakan pendapat dari ahli (experts
    judgment)

  2. Validitas isi (content validity); dilakukan dengan membandingkan antara isi instrument dengan materi pelajaran yang telah diajarkan.

  3. Validitas eksternal; dengan cara membandingkanguna mencari kesamaan antar criteria yang ada pada instrument dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan.
Kemudian dalam Azwar (2011), jenis validitas terdiri dari 3 yaitu:
  1. Validitas isi: menunjukkan sejauh mana aitem-aitem dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur oleh tes tersebut.
  2. Validitas konstruk: menunjukkan sejauh mana suatu tes mengukur trait atau konstruk teoretik yang hendak diukurnya.
  3. Validitas kriteria: bukti validitasnya diperlihatkan dengan adanya hubungan skor pada tes yang bersangkutan dengan skor suatu kriteria (contoh: analisis korelasional.
Menurut sumber lain yang serupa, Ada lima sumber dasar teori dalam validitas konstrak, yaitu isi, proses respon, struktur internal, hubungan terhadap variabel lain, dan akibat. Berikut ini akan diuraikan satu per satu. Konten: melihat hubungan antara isi pengukuran dengan konstrak ingin diukur. Disini perlu dilihat definisi, tujuan alat ukur, proses dalam mengembangkan dan memilih aitem, kata-kata dari setiap aitem, dan kualifikasi penulis. Bukti konten biasanya menyajikan langkah-langkah terperinci untuk memastikan bahwa alat ukur tersebut telah mewakili konstrak yang akan dikur (Cook&Beckman,2006). Proses respon yaitu bagaimana pola pikir penulis terhadap pengukuran yang dilakukan, metode dan keamanan data yang digunakan dalam pengukuran dan pelaporan juga termasuk dalam kategori ini. Struktur internal melihat hubungan antara aitem tes dengan tes yang digunakan untu mengukur konstrak, yaitu apakah aitem-aitem yang penting mungkin dapat memiliki fungsi yang berbeda pada sekelompo responden. Hal ini bermanfaat apabila responden secara kategorial memiliki kesamaan, sehingga aitem tes ini diharapkan dapat menunjukkan perbedaannya dari masing-masing responden. Hubungannya dengan variabel
yang lain:
melihat hubungan skor tes dengan pengukuran lain dengan konstrak yang sama.

Bagaimana cara mengukur validitas dan reliabilitas?
Validitas
Menurut Sugiyono (2010), cara pengujian validitas yaitu sebagaiberikut:
  1. Pengujian validitas konstruk; menggunakan pendapat para ahli mengenai aspek yang akan diukur. Kemudian dilakukan ujicoba instrumen pada sampel dari populasi yang akan digunakan. Setelah data ditabulasikan, maka pengujian validitas konstruk dilakukan dengan analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen dalam suatu faktor, dan mengkorelasikan skor faktor dengan skor total. Pengujian validitas seluruh butir instrumen dalam satu variabel dapat juga dilakukan dengan cara mencari daya pembeda skor tiap aitem dari kelompok yang memberikan jawaban tinggi dan jawaban rendah. Pengujian analisis daya pembeda dapat menggunakan t-test.
  2. Pengujian validitas isi; untuk instrumen yang berbentuk tes dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah diajarkan. Di sisi lain, pengujian validitas isi dari instrumen yang akan mengukur efektivitas pelaksanaan program, dapat dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dengan isi atau rancangan yang telah ditetapkan. Untuk menguji validitas butir-butir instrumen lebih lanjut, maka setelah dikonsultasikan kepada para ahli, selanjutnya diujicobakan, dan dilakukan analisis aitem atau uji beda.
  3. Pengujian validitas eksternal; dilakukan dengancara membandingkan (untuk mencari kesamaan) antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi di lapangan. Bila terdapat kesamaan, maka dapat dinyatakan instrumen tersebut memiliki validitas eksternal yang tinggi.
Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2010), Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Secara internal, reliabilitas dapat diuji dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik internal consistency. Hal ini dilakukan dengan cara meng-ujicobakan instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik belah dua dari Spearman Brown (Split Half), KR-20, KR-21, dan Anova Hyott (Analisis Varians).
Kemudian secara eksternal, pengujian dapat dilakukan dengan cara berikut:
  1. Test-retest. Pengujian test-retest dilakukan dengan cara mencobakan instrumen yang sama beberapa kali pada responden yang sama, namun dilakukan dalam waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliabel.
  2. Equivalent. Pengujian dengan cara ini cukup dilakukan sekali, namun menggunakan dua instrumen yang berbeda, pada responden yang sama, dan waktu yang sama. Reliabilitas dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrumen yang dijadikan equivalent.
  3. Gabungan. Pengujian dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang equivalent beberapa kali kepada responden yang sama. Reliabilitas diukur dengan mengkorelasikan dua instrumen, kemudian dikorelasikan pada pengujian kedua, dan selanjutnya dikorelasikan secara silang.
Selainitu, menurut Jacobs (1991), analisa reliabilitas dapat diukur dengan tiga cara yaitu BEST digitek test scoring, Spearman Brown, dan Kuder-Richarson 20. Spearman Brown mengukur konsistensi pengambilan aitem. Sedangkan KR-20 mengukur konsistensi jawaban terhadap semua aitem dan menunjukkan dua sumber kesalahan, yaitu: pemilihan aitem dan heterogenitas dari sampel. Reliabilitas juga dapat dijelaskan dengan standar eror pengukuran, yaitu memperkirakan
seberapa besar perubahan nilai individu ketika dilakukan pengulangan tes. Apabila reliabilitas nilai tes tinggi, maka standar error pengukuran tersebut rendah.

Bagaimana cara mengembangkan validitas sesuai dengan kebutuhan?
Untuk menggunakan validitas yang diinginkan terlebih dahulu mencari referensi mengenai teori pengukuran yang akan dipakai, dengan demikian dapat diketahui pengukuran yang akan digunakan sehingga dapat menghasilkan suatu validitas nantinya (Cook&Beckman, 2006). Selain teknik korelasi, pada reliabilitas juga berkembang analisis varians skor dan analisis varians eror (Azwar, 2011).

Kapan validitas dan reliabilitas berfungsi/berlaku dan
kapan tidak berfungsi? Apa Syaratnya?

Validitas
Menurut Neuman (2007), ketika peneliti mengatakan bahwa suatu indikator itu valid, maka indikator tersebut valid untuk tujuan dan definisi tertentu. Indikator yang sama bisa valid untuk satu tujuan (misal pertanyaan penelitian dengan unit analisis atau secara umum), tetapi bisa
kurang valid atau tidak valid untuk hal yang lainnya. Misalnya dalam mengukur prejudice, bisa valid untuk mengukur prejudice para guru, tapi bisa jadi tidak valid untuk digunakan dalam mengukur prejudice dari para polisi. Tidak adanya validitas terjadi jika tidak terdapat kesesuaian atau kesesuaian yang rendah antara konstruk yang digunakan untuk menggambarkan, membuat teori atau menganalisis dunia sosial dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia sosial.
Reliabilitas
Menurut Sugiyono (2010), jika terhadap bagian obyek ukur yang sama, hasil ukur melalui butir yang satu tidak konsisten dengan hasil ukur melalui butir yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu kesatuan itu tidak dapat dipercaya. Dengan kata lain, alat ukur tidak reliabel dan tidak dapat digunakan untuk mengungkap ciri atau keadaan yang sesungguhnya dari obyek ukur. Kemudian apabila hasil pengukuran pada bagian obyek ukur yang sama antara butir yang satu dengan butir yang lain saling kontradiksi atau tidak konsisten maka kita tidak bisa menyalahkan obyek ukur, melainkan alat ukur (tes) yang dipersalahkan dengan mengatakan bahwa tes tersebut tidak reliabel terhadap obyek yang diukur.

Bagaimana hubungan antara validitas dan reliabilitas?
Reliabilitas diperlukan untuk pengujian validitas dan lebih mudah untuk dicapai daripada validitas. Meskipun reliabilitas diperlukan untuk memiliki ukuran yang valid dari suatu konsep, hal itu tidak menjamin ukuran tersebut bisa berlaku. Selain itu, suatu ukuran yang reliabel atau dapat menghasilkan hasil yang sama berulang-ulang, namun belum tentu valid atau mungkin hasil pengukuran tidak cocok dengan definisi konstruk. Dalam hal ini, validitas dan reliabilitas merupakan konsep yang saling melengkapi, namun dalam beberapa situasi mereka bertentangan satu sama lain.
Kadang-kadang, validitas meningkat namun reliabilitas lebih sulit dicapai, atau sebaliknya. Hal ini terjadi ketika memiliki definisi konstruk yang sangat abstrak dan tidak mudah diamati. Reliabilitas paling mudah dicapai ketika ukuran secara tepat dan dapat diamati. Dengan demikian, ada pertentangan antara esensi sebenarnya dari konstruk yang sangat abstrak dan mengukurnya secara
konkret (Neuman, 2007).

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi validitas?
Menurut Cook & Beckman (2006), faktor yang mempengaruhi validitas yaitu definisi yang jelas mengenai suatu konstrak pengukuran. Selain itu, faktor-faktor yang juga mempengaruhi yaitu: panjang alat ukur, variabilitas kemampuan kelompok, instruksi tes yang ambigu, perbedaan sosio-kultural, penambahan item-item yang tidak tepat.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi reliabilitas?
Menurut Jacobs (1991), beberapa faktor yang mempengaruhi reliabilitas adalah sebagai berikut:
  1. Pemilihan aitem; dimana tes merupakan pemilihan aitem-aitem yang digunakan untuk mengukur suatu konstrak, dengan demikian pemilihan aitem tersebut dapat menjad sumber kesalahan dalam pelaksanaan tes. Untuk meningkatkan konsistensi dapat memperbanyak pemilihan aitem yang digunakan. Dengan demikian akan mengurangi responden untuk asal tebak dalam menjawab. Namun aitem ini juga harus dipertimbangkan kualitas pertanyaannya, karena apabila tidak dan aitem yang diberikan banyak dapat membuatresponden kelelahan.
  2. Penyusunan aitem; kalimat yang ambigu atau kurangnya kata dalam suatu kalimat juga dapat mempengaruhi interpretasi responden sehingga dapat mempengaruhi reliabilitas.
  3. Pemberian administrasi tes; kalimat instruksi yang kurang jelas atau suasana yang bising dapat mempengaruhi responden ketika menjawab.
  4. Penilaian (scoring); pada tes essai memiliki reliabilitas yang lebih rendah dibandingkan dengan tes pilihan ganda. Karena pada tes esai, penilai memiliki interpretasi yang berbeda-beda dalam menilai jawaban responden sehingga lebih bersifat subyektif.
  5. Tingkat kesulitan dari suatu tes; nilai dari suatu tes menunjukkan reliabilitas yang baik apabila nilai tersebut menyebar dari skala yang digunakan dengan demikian dapat terlihat perbedaan antar siswa. Faktor yang terakhir adalah siswa, dimana kelelahan, kecemasan, dan siswa sakit dapat menyebabkan reliabilitas yang rendah karena mempengaruhi kinerja mereka dalam mengerjakan tes (Jacobs,1991).

Apabila membutuhkan reliabilitas, dinaikkan sampai berapa. Jika tidak membutuhkan, diturunkan sampai berapa?
Dengan memperbanyak jumlah aitem, biasanya dalam soal pilihan ganda terdapat 40 soal, berhati-hati dalam menyusun aitem yaitu memperjelas maksud dari pertanyaan, perencanaan waktu dalam pelaksanaan tes karena pengisian yang terburu-buru di akhir waktu bukanlah tes yang reliabel, dan prosedur tes hendaknya ditulis dengan kalimat yang jelas (Jacobs, 1991).

Apa perbedaan hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang valid dan reliabel?
Hasil penelitian dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti, sedangkan hasil penelitian dikatakan reliabel apabila terdapat kesamaan data dalam waktu yang berbeda.
Di sisi lain, instrumen yang valid adalah instrumen yang digunakan untuk mendapatkan data dan bisa mengukur apa yang seharusnya diukur, sedangkan instrumen yang reliabel adalah instrumen
yang bila digu akan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama dapat menghasilkan data yang sama (Sugiyono, 2010).
Bagaimana cara meningkatkan reliabilitas pengukuran?
Ada empat cara untuk meningkatkan reliabilitas pengukuran: (1) mengonseptualisasi semua konstruk secara jelas, (2) menggunakan level pengukuran yang tepat, (3) menggunakan beberapa indikator dari suatu variabel, dan (4) menggunakan pilot-tets (pretests, pilot studies, dan replikasi) (Neuman, 2007).

Bagaimana cara meningkatkan validitas eksternal penelitian?
Cara meningkatkan validitas eksternal penelitian yaitu dengan cara meningkatkan validitas eksternal dari instrumen dan memperbesar jumlah sampel (Sugiyono, 2010).

Bagaimana proses validasi?
Proses validasi melibatkan pengumpulan bukti-bukti untuk memberikan dasar ilmiah pada interpretasi skor yang dimaksud (Standards, 1999).

Sebutkan sumber-sumber pembuktian validitas!
menurut Standards (1991), beberapa sumber pembuktian validitas yaitu sebagai berikut:
  1. Pembuktian yang didasarkan pada konten pengujian (evidence based on test content); mengacu pada tema, judul, format aitem-aitem, tugas, ataupun pertanyaan pada suatu tes, serta pedoman untuk prosedur mengenai administrasi dan skoring.
  2. Pembuktian yang didasarkan pada proses-proses respon (evidence based on response processes); berupa analisis teoritis dan empiris dari proses respon pengambil tes.
  3. Pembuktian yang didasarkan pada truktur internal (evidence based on internal structure); hal ini dapat menunjukkan sejauh mana hubungan antar item tes dan komponen yang diuji sesuai dengan dasar konstruk yang digunakan untuk menginterpretasi skor tes.
  4. Pembuktian yang didasarkan pada hubungannya terhadap variabel lain (evidence based on relations to other variables); dengan menganalisa hubungan antara skor tes dengan variabel eksternal tes.
  5. Pembuktian yang didasarkan pada konsekuensi pemberian tes (evidence based on consequences of testing); dengan menggabungkan konsekuensi-koneskuensi baik yang diinginkan maupun tidak diinginkan dari kegunaan tes kedalam konsep validitas, misal kebijakan sosial.

Bagaimana cara pengujian reliabilitas hasil ukur skala psikologi?
Pengujian reliabilitas terhadap hasil ukur skala psikologi dapat dilakukan bilamana item-item yang terpilih lewat prosedur analisis item telah dikompilasikan menjadi satu (Azwar, 2008).

Bagaimana aplikasi dalam menyatakan reliabilitas?
Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas (rxx’) yang angkanya berada dalam rentang dari 0 sampai dengan 1,00, dimana koefisien reliabiltas semakin mendekati 1,00 maka semakin tinggi
reliabilitasnya, begitu pun sebaliknya (Azwar, 2008).

Jelaskan makna dari koefisien validitas dan reliabilitas!
  1. Interpretasi koefisien validitas dan reliabilitas keduanya bersifat relatif, dalam hal ini pada umumnya estimasi validitas berkisar 0,50 dapat dianggap memuaskan, sedangkan koefisien validitaskurang dari 0,30 biasanya dianggap tidak memuaskan.
  2. Pada umumnya, reliabilitas dapat dianggap memuaskan apabila koefisiennya minimal mencapai rxx’ = 0,900, namun terkadang suatu koefisien tidak mencapai nilai tersebut dan masih dianggap cukup berarti dalam suatu kasus tertentu terutama apabila skala yang bersangkutan digunakan bersama-sama dengan tes lain dalam suatu perangkat pengukuran (battery test) (Azwar, 2008).

    Sebutkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
    menginterpretasi koefisien reliabilitas!

    Terdapat dua hal yang perlu
    diperhatikan dalam menginterpretasikan koefisien reliabilitas, yaitu sebagai
    berikut (Azwar, 2008):
    a. Interpretasi
    koefisien reliabilitas bernilai spesifik bagi hasil ukur pada kelompok individu
    tertentu saja.
    b. Koefisien
    reliabilitas hanya mengindikasi besarnya inkonsistensi skor hasil pengukuran,
    bukan menyatakan secara langsung penyebab inkonsistensi tersebut.

    Referensi:

     

    _________. (1999). Standards: Educational and psychological testing. Washington: American Educational Research Association.

    Anastasi, A., & Urbina, S. (1998). Tes Psikologi (Edisi Terjemahan). Jakarta: PT. Prenhallindo.

    Azwar, S. (2008). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Azwar, S. (2011). Tes Prestasi: Fungsi dan pengembangan pengukuran prestasi belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

    Cook, D. A. & Beckman, T. (2006). Current concept validity and reliability for psychometric instrument: Theory and application. The American Journal of Medicine.

    Jacobs, L. C. (1991). Test Reliability. IU Bloomington evaluation service & testing. Diakses pada tanggal 7 November 2014 dari www.indiana.edu.

    Matondang, Z. (2009). Validitas dan reliabilitas suatu instrumen penelitian.  Jurnal Tabularasa PPS Unimed, 6 (1), 87-97.

    Neuman, W. L. (2007). Basic of social research: Qualitative and quantitative qpproaches, second edition. Pearson Education, Inc.

    Sugiyono. (2004). Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.

    Sugiyono. (2010). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

    Widodo, P. B. (2006). Reliabilitas dan validitas konstruk skala konsep diri untuk mahasiswa Indonesia. Jurnal Psikologi Universitas Diponegoro, 3 (1), 1-9.

    (dibuat untuk tugas metode penelitian kuantitatif Magister Profesi Psikologi Unair 2014)

    Dosen pengajar: DR. Cholichul Hadi, M.Si., Psikolog.

    Kelompok:
    1. Nurdila Triastuti  111414153036
    2. Diyana R.           111414153038
    3. I.G.A.K. Yulia D.  111414153018
    4. Dilla Ima W.         111414153005
    5. Pratiwi S.            
    6. Rosita P.              111414153020
    7. Hielma H.             111414153030
    8. Muhithah Ulin. N. 111414153015